Text
Kidung Malam
Dalam novel ini, Durna tampil manusiawi yang sedikit banyak memancing rasa simpati. Dan itu tanpa upaya merehabilitasi nama Durna. Herjaka memang tidak memberi fakta-fakta baru. Ja tetap setia dengan pakem yang ada. Termasuk sekadar fakta pelengkap dimana Batari Wilutama (bukan Dewi Krepi) sebagai istri Durna, atau Srikandi (bukan Drupadi) sebagai aksentuasi, penegasan dan penggambaran yang menyentuh. Diawali dengan situasi konflik antara Kurawa dan Pandawa dimana Durna masuk ke dalam pusaran ini, sampai perasaan sentimentilnya terhadap Wilutama dan Aswatama, dendam membaranya terhadap Durpada, dan kegundahan atas sikap tidak adilnya terhadap Ekalaya. Termasuk juga penggambaran yang halus mengenai gaya persuasi Dewi Gendari, dan perasaan Aswatama terhadap anak pujan Drupada merupakan bagian dari versi pakem yang ada. Namun Herjaka memilih poin bercerita pada emosi manusia, serta memberi Dewi Anggraeni. Satu hal yang tak kalah menarik bahwa tokoh yang diangkat ini adalah Durna, tokoh yang jarang diangkat secara tunggal. Sebagai tokoh yang diposisikan antagonis, bisa dikatakan bahwa Durna cuma dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Berbeda dengan Karna, misalnya, yang meski berseberangan dengan Pandawa tapi dikagumi sampai dijadikan pilihan nama untuk anak, termasuk Soekarno. Padahal Durna adalah tokoh penting yang berperan dalam sejumlah lakon. Terutama, misalnya dalam Dewa Ruci meski versi mainstreamnya mencitrakan Durna sebagai guru yang menyalahgunakan otoritasnya untuk membunuh Bima. Sedangkan versi marginalnya menempatkan Durna sebagai sarana agar Bima menemukan jati dirinya.
| B-0040-13 | 813 Her k c.1 | Perpus BBPPMPV SB (Almari 813) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain